Sabtu, 24 September 2016

Menulis Sebagai Proses



                                                                                      

MENULIS SEBAGAI PROSES



A.Pengertian Menulis
           menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Tulisan merupakan sebuah symbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakainya. Dengan demikian, dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsure yang terlibat: penulis sebagai penyampai pesan (penulis), pasan atau isi tulisan, saluran atau media berupa tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan.
       Menurut Graves (1978), seseorang enggan menulis karena tidak tahu untuk apa dia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana harus menulis. Ketidaksukaan tak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga dan masyarakatnya, serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang memotivasi atau merangsang minat.
Smith (1981) mengatakan bahwa pengalaman belajar menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru tidak dipersiapkan untuk terampil menulis dan mengajarkannya. Karena itu, untuk menutupi keadaan yang sesungguhnya muncullah berbagai mitos atau pendapat yang keliru tentang menulis dan pembelajarannya.
Di antara mitos yang perlu kita perhatikan adalah sebagai berikut.
1.      Menulis itu Mudah        
Teori menulis atau mengarang, memang mudah. Gampang dihafal. Tetapi, menulis atau mengarang bukanlah sekedar teori, melainkan keterampilan.

2.      Kemampuan Menggunakan Unsur Mekanik Tulisan merupakan Inti dari Menulis
Dalam mengarang seseorang perlu memiliki keterampilan mekanik seperti penggunaan ejaan, pemilihan kata, pengkalimatan, pengalineaan, dan pewacanaan. Namun, kemampuan mekanik saja tidaklah cukup. Karangan harus mengandung sesuatu atau isi yang akan disampaikan. Isi itu berupa ide, gagasan, perasaan atau informasi yang akan diungkapkan oleh penulis kepada orang lain.

3.      Menulis itu Harus Sekali Jadi
Tidak banyak orang yang dapat menulis sekali jadi. Bahkan, penulis professional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.

4.      Orang yang Tidak Menyukai dan Tidak Pernah Menulis Dapat Mengajarkan Menulis
Siapapun yang mengajar mengarang dia harus menyukai dan memiliki pengalaman dan keterampilan mengarang. Mengapa? Dia harus dapat menunjukan kepada muridnya manfaat dan nikmatnya menulis. Dia pun harus mampu mendemonstrasikan apa dan bagaimana mengarang.

B. Menulis sebagai Proses

    Beberapa pendekatan yang kerap muncul dalam pembelajaran menulis (Proett dan Gill, 1986).
  1. Pendekatan frekuensi menyatakan bahwa banyaknya latihan mengarang, sekalipun tidak tidak dikoreksi (seperti buku harian atau surat), akan membantu meningkatkan keterampilan mernulis seseorang.
  2. Pendekatan gramatikal berpendapat bahwa pengetahuan orang mengenai struktur bahasa akan mempercepat kemahiran orang dalam menulis.
  3. Pendekatan koreksi berkata bahwa seseorang menjadi penulis karena dia menerima banyak koreksi atau masukan yang diperoleh atas tulisannya.
  4. Pendekatan formal mengungkapkan bahwa ketrampilan menulis akan diperoleh bila pengetahuan bahasa, pengalineaan, pewacanaan, serta konvensi atau aturan penulisan dikuasai dengan baik.
    Sebagai proses, menulis merupakan serangkaian aktuvitas yang terjadi dan melibatkan beberapa fase yaitu fase prapenulisan (persiapan), penulisan (pengembangan isi karangan), dan pascapenulisan (telaah dan revisi atau penyempurnaan tulisan).
Untuk mempermudah pemahaman, kaitkanlah uraian di bawah ini dengan pangalaman Anda dalam pangalaman Anda dalam mengarang.



1.      Tahap Prapenulisan
Menurut Proett dan Gill (1986), tahap ini merupakan fase mencari, menemukan, dan mengingat kembali pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh dan diperlukan penulis. Tujuannya adalah untuk mengembangkan isi serta mencari kemungkinan-kemungkinan lain dalam menulis sehingga apa yang ingin ditulis dapat disjkan dengan baik.
Persiapan yang baik sangat memungkinkan bagi kita untuk mengumpulkan bahan secara terarah, mengaitpadukan antar gagasan secara runtut, serta membahasny secara kaya, luas, dan dalam. Sebaliknya, tanpa persiapan yang memadai, banyak kesulitan yang akn kita temukan sewaktu menulis. Pada fase prapenulisan ini terdapat aktivitas memilih topic, menetapan tujuan dan sasaran, mengumpulkan bahan atau informasi yang diperlukan, serta mengorganisasikan ide atau gagasan dalam bentuk kerangka karangan.

  1. Tahap Penulisan
       Dalam menulis memang harus sabar, Jangan ingin sempurna hanya dengan sekali tulis. Atau, baru menulis langsung diperbaiki. Diulang lagi, dan menulis lagi. Kalau kita tetap bersikap seperti itu, percayalah tulisan tak akan perlu jadi. Kalau apa yang kita tulis jauh menyimpang dari rencana sumula atau jauh dari harapan kita, bolehlah kita merevisi dan menulis ulang. Akan tetapi, kalau kekurangan itu tidak parah----misalnya ada yang tertinggal, belum lengkap, urutannya terbalik, redaksinya kurang enak----teruskan saja dulu kegiatan menulisnya sampai selesai. Biarkan karangan itu jadi dan utuh dulu sehingga mudah untuk menyunting dan memperbaikinya.
  1. Tahap Pascapenulisan
    Kegiatannya terdiri atas penyuntingan dan perbaikan (revisi). Penyuntingan di sini diartikan sebagai kegiatan membaca ulang suatu beram karangan dengan maksud untuk merasakan, menilai, dan memeriksa baik unsure mekanik atau pun isi karangan. Tujuannya adalah untuk menemukan atau memperoleh informasi tentang unsure-unsur karangan yang perlu disempurnakan.
            Berdasarkan hasil penyuntingan itulah maka kegiatan revisi atau perbaikan karangan dilakukan. Kegiatan revisi itu dapat berupa penambahan, penggantian, penghilangan, pengubahan, atau penyusunan kembali unsure-unsur karangan. Kadar  revisi itu sendiri tergantung pada tingkat keperluannya. Bisa revisi berat, bisa juga sedang atau ringan.
            Pada revisi ringan, seperti yang disebabkan oleh kesalahan unsure-unsur mekanik, kegiatan perbaikan itu biasanya dilakukan bersamaan dengan penyuntingan.

C. Hubungan Menulis dengan Ketrampilan Berbahasa yang lain
           
            Saudara, kita semua tahu bahwa ketrampilan berbahasa itu mencakup empat komponen (mode). Kempat komponen itu adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat komponen itu memiliki keterkaitan yang sangat erat. Mari kita simak keempatnya komponen tersebut yang diberikan melalui matrik berikut.
  1. Hubungan Menulis dengan Membaca
Menulis dan membaca adalah kegiatan berbahasa tulis. Pesan yang disampaikan penulis dan diterima oleh pembaca dijembatani melalui lambang bahasa yang dituliskan. Menurut Goodman dkk. (1987) dan Tierney (1983 dalam Tompskin dan Hoskisson, 1995), baca-tulis merupakan suatu kegiatan yang menjadikan penulis sebagai pembaca dan pembaca sebagai penulis.
Penulis sebagai pambaca. Artinya, ketika aktivitas menulis berlangsung si penulis membaca karangannya. Ia membayangkan dirinya sebagai pembaca untuk melihat dan menilai apakah tulisannya telah menyajikan sesuatu yang berarti, apakah ada yang tidak layak saji, serta apakah tulisannya menarik dan enak dibaca.
Penulis pun melakukan berbagai kegiatan membaca lainnya. Dia membaca karya penulis lain untuk memperoleh ide dan informasi, menemukan, memperjelas dan memecahkan masalah, juga mempelajari bagaimana pengarang menyajikan dan mengemas tulisannya. Kualitas pengalaman membaca ini akan sangat mempengaruhi kesuksesannya dalam menulis. Itu terjadi, demikian Frank Smith (1982), karena ketika membaca secara tidak sadar pembaca “membaca seperti penulis” (1982). Tidaklah berlebihan jika kita nyatakan bahwa penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula.
Pembaca sebagai penulis. Artinya, ketika berlangsung kegiatan membaca, pembaca melakukan aktivitas seperti yang dilakukan penulis. Pembaca menemukan topic dan tujuan tulisan, gagasan dan kaitan antar gagasan, dan kejelasan uraian, serta mengorganisasikan bacaan, menganalisis atau merekonstruksi bacaan dengan membayangkan apa yang dimaksudkan dan diinginkan penulisnya sehingga pesan yang penulis sampaikan dapat ditangkap dengan baik.

  1. Hubungan Menulis dengan menyimak
Ketika menulis, seseorang butuh inspirasi, ide, atau informasi untuk tulisannya. Hal itu dapat diperolehnya dari berbagai sumber: sumber cetak seperti buku, majalah, surat kabar, jurnal, atau laporan, dan juga sumber tak tercetak seperti radio, televisi,dll. Jika sumber tercetak informasi itu diperoleh dengan membaca, maka dari sumber tak tercetak perolehan informasi itu dilakukan dengan menyimak.
Melalui menyimak ini penulis tidak hanya memperoleh ide atau informasi untuk tulisannya, tetapi juga menginspirasi tata saji dan struktur penyampaian lisan yang menarik hatinya, yang akan berguna untuk aktivitas menulisnya.

  1. Hubungan Menulis dengan Berbicara
Antara menulis dan berbicara keduanya merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat aktif-produktif. Artinya, penulis dan pembicara berperan sebagai penyampai atau pengirim pesan kepada orang lain. Keduanya harus mengambil sejumlah keputusan berkaitan dengan topic, tujuan, jenis informasi yang akan disampaikan, serta cara penyampaiannya sesuai dengan kondisi sasaran (pembaca atau pendengar) dan corak teksnya (eksposisi, deskripsi, narasi, argumentasi, dan persuasi). Kalaupun ada perbedaan, hal itu lebih disebabkan kerena perbedaan kecaraan dan medianya.
     T.S. Eliot (dalam Tarigan, 1986), seorang penyiar dan kritikus terkenal, mengatakan “jika kita menulis seperti kita berbicara, maka tidak seorang pun yang mau membacanya. Begitu pula sebaliknya, kalau kita berbicara seperti kita menulis, maka tak ada yang mau mendengarkannya.” Lalu, di manakah perbedaan ragam bahasa lisan dan tulis? Silakan Anda jawab dulu!
Perbedaan utama antara kedua ragam bahasa itu terletak pada tiga hal. Pertama, berkaitan dengan suasana bahasa. Di dalam ragam bahasa lisan, karena biasanya pembicara dan penyimak berada dalam konteks yang bersemuka (face to face communication), unsure-unsur itu kadang-kadang dapat ditanggalkan (Moeliono, 1989:145-147).
            Kedua, perbedaan kedua terletak pada unsure-unsur nonverbal (nonbahasa) --- seperti tinggi rendah, panjang pendek, dan lembut kerasnya suara, serta irama kalimat --- yang menyertai pembicaraan, yang sulit dilambangkan secara tertulis.
            Perbedaan lain keduanya terletak pada sajian ide atau gagasan. Dalam ragam lisan, sajian ide itu tidak sejelas dalam tulisan. Kita hanya dapat merasakannya. Sebaliknya, dalam ragam tulis, ide atau gagasan-gagasan itu disajikan secara khas dan sangat jelas. Subjudul, rincian, peragraf, dan kalimat transisi, adalah unsure-unsur yang dapat menandai perpindahan dan hubungan antargagasan, menandai perpindahan dan hubungan antargagasan.
           
                                 

  KELOMPOK 3  :
      1.  Irma Fatmawati
      2.  Jihan Rahayu
      3.  Lela Mustika
      4.  Niza Nurdia Putri
      5.  Nelly marsela
      6.  Siti Mariyam