MENULIS SEBAGAI PROSES
A.Pengertian Menulis
menulis
dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi)
dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Tulisan
merupakan sebuah symbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan
disepakati pemakainya. Dengan demikian, dalam komunikasi tulis paling tidak
terdapat empat unsure yang terlibat: penulis sebagai penyampai pesan
(penulis), pasan atau isi tulisan, saluran atau media berupa
tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan.
Menurut Graves
(1978), seseorang enggan menulis karena tidak tahu untuk apa dia menulis,
merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana harus menulis. Ketidaksukaan
tak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga dan masyarakatnya, serta
pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang
memotivasi atau merangsang minat.
Smith (1981) mengatakan bahwa pengalaman belajar
menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya
sendiri. Umumnya guru tidak
dipersiapkan untuk terampil menulis dan mengajarkannya. Karena itu, untuk
menutupi keadaan yang sesungguhnya muncullah berbagai mitos atau pendapat yang
keliru tentang menulis dan pembelajarannya.
Di antara mitos
yang perlu kita perhatikan adalah sebagai berikut.
1.
Menulis itu Mudah
Teori menulis atau mengarang, memang mudah. Gampang dihafal. Tetapi,
menulis atau mengarang bukanlah sekedar teori, melainkan keterampilan.
2.
Kemampuan Menggunakan Unsur Mekanik Tulisan
merupakan Inti dari Menulis
Dalam mengarang seseorang perlu memiliki keterampilan mekanik seperti
penggunaan ejaan, pemilihan kata, pengkalimatan, pengalineaan, dan pewacanaan. Namun, kemampuan mekanik saja tidaklah cukup. Karangan harus mengandung
sesuatu atau isi yang akan disampaikan. Isi itu berupa ide, gagasan, perasaan
atau informasi yang akan diungkapkan oleh penulis kepada orang lain.
3.
Menulis itu Harus Sekali Jadi
Tidak banyak orang yang dapat menulis sekali jadi. Bahkan, penulis
professional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta penyuntingan,
perbaikan, dan penyempurnaan.
4.
Orang yang Tidak Menyukai dan Tidak Pernah
Menulis Dapat Mengajarkan Menulis
Siapapun yang mengajar mengarang dia
harus menyukai dan memiliki pengalaman dan keterampilan mengarang. Mengapa? Dia harus dapat menunjukan kepada muridnya manfaat dan nikmatnya
menulis. Dia pun harus mampu mendemonstrasikan apa dan bagaimana mengarang.
B. Menulis
sebagai Proses
Beberapa pendekatan yang kerap muncul dalam
pembelajaran menulis (Proett dan Gill, 1986).
- Pendekatan frekuensi menyatakan bahwa banyaknya latihan mengarang, sekalipun tidak tidak dikoreksi (seperti buku harian atau surat), akan membantu meningkatkan keterampilan mernulis seseorang.
- Pendekatan gramatikal berpendapat bahwa pengetahuan orang mengenai struktur bahasa akan mempercepat kemahiran orang dalam menulis.
- Pendekatan koreksi berkata bahwa seseorang menjadi penulis karena dia menerima banyak koreksi atau masukan yang diperoleh atas tulisannya.
- Pendekatan formal mengungkapkan bahwa ketrampilan menulis akan diperoleh bila pengetahuan bahasa, pengalineaan, pewacanaan, serta konvensi atau aturan penulisan dikuasai dengan baik.
Sebagai
proses, menulis merupakan
serangkaian aktuvitas yang terjadi dan melibatkan beberapa fase yaitu fase prapenulisan
(persiapan), penulisan (pengembangan isi karangan), dan pascapenulisan
(telaah dan revisi atau penyempurnaan tulisan).
Untuk mempermudah
pemahaman, kaitkanlah uraian di bawah ini dengan pangalaman Anda dalam
pangalaman Anda dalam mengarang.
1. Tahap Prapenulisan
Menurut Proett dan Gill (1986), tahap ini merupakan
fase mencari, menemukan, dan mengingat kembali pengetahuan atau pengalaman yang
diperoleh dan diperlukan penulis. Tujuannya
adalah untuk mengembangkan isi serta mencari kemungkinan-kemungkinan lain dalam
menulis sehingga apa yang ingin ditulis dapat disjkan dengan baik.
Persiapan yang baik sangat memungkinkan bagi kita untuk mengumpulkan bahan
secara terarah, mengaitpadukan antar gagasan secara runtut, serta membahasny
secara kaya, luas, dan dalam. Sebaliknya,
tanpa persiapan yang memadai, banyak kesulitan yang akn kita temukan sewaktu
menulis. Pada fase prapenulisan ini terdapat aktivitas memilih topic, menetapan
tujuan dan sasaran, mengumpulkan bahan atau informasi yang diperlukan, serta
mengorganisasikan ide atau gagasan dalam bentuk kerangka karangan.
- Tahap Penulisan
Dalam
menulis memang harus sabar, Jangan ingin sempurna hanya
dengan sekali tulis. Atau, baru menulis langsung diperbaiki. Diulang lagi, dan
menulis lagi. Kalau kita tetap bersikap
seperti itu, percayalah tulisan tak akan perlu jadi. Kalau apa yang kita tulis jauh menyimpang dari rencana sumula atau
jauh dari harapan kita, bolehlah kita merevisi dan menulis ulang. Akan tetapi,
kalau kekurangan itu tidak parah----misalnya ada yang tertinggal, belum
lengkap, urutannya terbalik, redaksinya kurang enak----teruskan saja dulu
kegiatan menulisnya sampai selesai. Biarkan karangan itu jadi dan utuh dulu
sehingga mudah untuk menyunting dan memperbaikinya.
- Tahap Pascapenulisan
Kegiatannya terdiri atas penyuntingan
dan perbaikan (revisi). Penyuntingan di sini diartikan
sebagai kegiatan membaca ulang suatu beram karangan dengan maksud untuk
merasakan, menilai, dan memeriksa baik unsure mekanik atau pun isi karangan.
Tujuannya adalah untuk menemukan atau memperoleh informasi tentang unsure-unsur
karangan yang perlu disempurnakan.
Berdasarkan hasil penyuntingan itulah maka kegiatan revisi atau perbaikan
karangan dilakukan. Kegiatan revisi itu dapat berupa penambahan, penggantian,
penghilangan, pengubahan, atau penyusunan kembali unsure-unsur karangan. Kadar revisi itu sendiri tergantung pada
tingkat keperluannya. Bisa revisi berat, bisa juga sedang atau ringan.
Pada revisi ringan, seperti yang disebabkan oleh kesalahan unsure-unsur
mekanik, kegiatan perbaikan itu biasanya dilakukan bersamaan dengan
penyuntingan.
C. Hubungan Menulis dengan Ketrampilan Berbahasa yang lain
Saudara, kita semua tahu bahwa ketrampilan
berbahasa itu mencakup empat komponen (mode). Kempat komponen itu adalah
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat komponen itu memiliki
keterkaitan yang sangat erat. Mari kita simak
keempatnya komponen tersebut yang diberikan melalui matrik berikut.
- Hubungan Menulis dengan Membaca
Menulis dan membaca adalah
kegiatan berbahasa tulis. Pesan yang disampaikan penulis dan diterima oleh
pembaca dijembatani melalui lambang bahasa yang dituliskan. Menurut Goodman
dkk. (1987) dan Tierney (1983 dalam Tompskin dan Hoskisson, 1995), baca-tulis merupakan suatu
kegiatan yang menjadikan penulis sebagai pembaca dan pembaca sebagai penulis.
Penulis
sebagai pambaca. Artinya, ketika aktivitas menulis berlangsung si
penulis membaca karangannya. Ia membayangkan dirinya sebagai pembaca
untuk melihat dan menilai apakah tulisannya telah menyajikan sesuatu yang
berarti, apakah ada yang tidak layak saji, serta apakah tulisannya menarik dan
enak dibaca.
Penulis pun melakukan berbagai
kegiatan membaca lainnya. Dia membaca karya penulis lain untuk memperoleh ide
dan informasi, menemukan, memperjelas dan memecahkan masalah, juga mempelajari
bagaimana pengarang menyajikan dan mengemas tulisannya. Kualitas pengalaman membaca
ini akan sangat mempengaruhi kesuksesannya dalam menulis. Itu terjadi, demikian
Frank Smith (1982), karena ketika membaca secara tidak sadar pembaca
“membaca seperti penulis” (1982). Tidaklah berlebihan jika kita nyatakan bahwa
penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula.
Pembaca
sebagai penulis. Artinya, ketika berlangsung kegiatan membaca, pembaca
melakukan aktivitas seperti yang dilakukan penulis. Pembaca menemukan topic dan tujuan tulisan, gagasan dan kaitan antar
gagasan, dan kejelasan uraian, serta mengorganisasikan bacaan, menganalisis
atau merekonstruksi bacaan dengan membayangkan apa yang dimaksudkan dan
diinginkan penulisnya sehingga pesan yang penulis sampaikan dapat ditangkap
dengan baik.
- Hubungan Menulis dengan menyimak
Ketika menulis, seseorang butuh
inspirasi, ide, atau informasi untuk tulisannya. Hal itu dapat diperolehnya dari berbagai sumber: sumber cetak
seperti buku, majalah, surat kabar, jurnal, atau laporan, dan juga sumber
tak tercetak seperti radio, televisi,dll. Jika sumber tercetak informasi itu diperoleh dengan membaca, maka dari
sumber tak tercetak perolehan informasi itu dilakukan dengan menyimak.
Melalui menyimak ini penulis
tidak hanya memperoleh ide atau informasi untuk tulisannya, tetapi juga
menginspirasi tata saji dan struktur penyampaian lisan yang menarik hatinya,
yang akan berguna untuk aktivitas menulisnya.
- Hubungan Menulis dengan Berbicara
Antara menulis dan berbicara
keduanya merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat aktif-produktif.
Artinya, penulis dan pembicara berperan sebagai penyampai atau pengirim pesan
kepada orang lain. Keduanya harus mengambil
sejumlah keputusan berkaitan dengan topic, tujuan, jenis informasi yang akan
disampaikan, serta cara penyampaiannya sesuai dengan kondisi sasaran (pembaca
atau pendengar) dan corak teksnya (eksposisi, deskripsi, narasi, argumentasi,
dan persuasi). Kalaupun ada perbedaan, hal itu lebih disebabkan kerena
perbedaan kecaraan dan medianya.
T.S. Eliot
(dalam Tarigan, 1986), seorang penyiar dan kritikus terkenal, mengatakan “jika
kita menulis seperti kita berbicara, maka tidak seorang pun yang mau
membacanya. Begitu pula sebaliknya, kalau
kita berbicara seperti kita menulis, maka tak ada yang mau mendengarkannya.”
Lalu, di manakah perbedaan ragam bahasa lisan dan tulis? Silakan Anda jawab
dulu!
Perbedaan utama antara kedua ragam bahasa itu
terletak pada tiga hal. Pertama, berkaitan dengan suasana bahasa. Di dalam
ragam bahasa lisan, karena biasanya pembicara dan penyimak berada dalam konteks
yang bersemuka (face to face communication), unsure-unsur itu
kadang-kadang dapat ditanggalkan (Moeliono, 1989:145-147).
Kedua, perbedaan kedua terletak pada unsure-unsur nonverbal (nonbahasa)
--- seperti tinggi rendah, panjang pendek, dan lembut kerasnya suara, serta
irama kalimat --- yang menyertai pembicaraan, yang sulit dilambangkan secara
tertulis.
Perbedaan lain keduanya terletak pada sajian ide
atau gagasan. Dalam ragam lisan, sajian ide itu tidak sejelas dalam
tulisan. Kita hanya dapat merasakannya. Sebaliknya, dalam ragam tulis, ide atau
gagasan-gagasan itu disajikan secara khas dan sangat jelas. Subjudul, rincian,
peragraf, dan kalimat transisi, adalah unsure-unsur yang dapat menandai
perpindahan dan hubungan antargagasan, menandai perpindahan dan hubungan
antargagasan.
KELOMPOK 3 :
1. Irma Fatmawati
2. Jihan Rahayu
3. Lela Mustika
4. Niza Nurdia Putri
5. Nelly marsela
6. Siti Mariyam
1. Irma Fatmawati
2. Jihan Rahayu
3. Lela Mustika
4. Niza Nurdia Putri
5. Nelly marsela
6. Siti Mariyam


Saya kiki yulandari dari kelompok 5 ingin bertanya. Dalam artikel ini tertulis hubungan menulis dengan berbicara terdapat perbedaan,apakah ada persamaannya dari kedua hubungan tersebut ?
BalasHapusbaiklah, saya NIZA NURDIA PUTRI akan menjawab pertanyaan dari saudari KIKI,anatara menulis dengan berbicara juga memiliki persamaan. yaitu kedua-duanya sama-sama bersifat aktif produktif yang artinya anatara penulis dengan pembicara berperan sebagai penyampai atau pengirim pesan kepada pihak lain.
BalasHapusterima kasih.
saya dari kelompok 6 inngin bertanya dari artikel ini menjelaskann bahwa dalam mengarang seseorang perlu memiliki keterampilan mekanik seperti penggunaan ejaan ,pemilihann kata,pengalimatan ,pengalenian ,dan pewacaan
BalasHapusdalam hal ini penggunaan ejaan yang baik dan benar yaitu ?
by: MELIN AGUSTIN
Terima kasih atas pertanyaannya kawanku Melin,ejaan yang baik dan benar itu adalah keseluruhan peraturan atau ketentuan bagaimana melambangkan bunyi, pemenggalan suku kata, dan bagaimana menggabungkan kata-kata.
BalasHapusSecara garis besarnya ejaan terbagi atas :
1. Pemenggalan kata
2. Penulisan kata
3. Pemakaian huruf kapital
4. Pemakaian tanda baca
5. Penulisan unsur serapan.
iya trimakasih Niza
HapusIya, sama-sama Melin.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSaya Ari widya pratiwi dari kelompok 1 akan bertanya,Apa manfaat menulis bagi kehidupan sehari-hari.
BalasHapusSebelumnya terima kasih atas jawaban dari saudari Melin, saya ingin menambahkan sedikit bahwa manfaat menulis dalam kehidupan sehari-hari diantaranya :
Hapus1. Media dalam menyalurkan bakat
2 dengan menulis kita bisa bereksplorasi dan berpikir lebih kreatif
3 peredam emosi
4 mencatat sejarah hidup dengan cara menulis diary dan lain-lain
Maaf sebelum nya boleh saya menjawab pertanyaan dari ARI WIDYA PRATIWI
BalasHapusMenurut saya menulis itu banyak sekali maanfaat nya kita menuangkan seluruh keluh kesah dihati kita dalam tulisan dalam kata-kata yang merasang kinerja otak kita secara penuh dengan tulisan sehingga kita merasa tenang contoh nya menulis diary .menulis diary itu banyak sekali manfaat nya seperti
1.berlatih untuk disiplin diri
2.menjadi penyembuh diri
3.bersikap jujur
4.memiliki fokus yang kuat pada ambisi
5.membuat kita termotivasi
6.melihat perspesifik
7.merapikan otak
8.lebih memamhami emosi sendiri
9.menjalani kehidupan sehari - hari dengan baik dan produktif
trimaksih
BY:MELIN AGUSTIN
Saya Ari Widya Pratiwi dari kelompk 1,saya akan bertanya apa manfaat menulis dalam kehidupan sehari-hari?
BalasHapusSaya perwakilan dari kelompok 4 ingin bertanya kepada anggota kelompok 3
BalasHapusTelah dijelaskan dalam artikel ini saya ingin bertanya tentang
Apakah tujuan dari menulis menurut pemikiran kalian sendiri?
Silahkan dijawab
Sebelumnya terima kasih
Menurut kami tujuan menulis ialah untuk menyampaikan buah pikiran, ide2 kreatif, pesan, serta informasi2 faktual yg bisa diterima oleh banyak orang.
BalasHapussaya dessy yanti dari kelompok 2 ingin bertanya apa manfaat dari tahap pascapenulian
BalasHapusTerima kasih
saya irma fatmawati perwakilan kelompok 3 ingin menjawab pertanyaan dari saudara dessy, manfaat dari tahap pasca penulisan yaitu hasil tulisan yang didapat lebih sempurna dan kita bisa mengetahui seberapa banyak kesalahan pada saat penulisan kata maupun kalimat
Hapus